RAHASIA DIBALIK BULAN SUCI RAMADHAN

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
      Bab 1 Puasa 
Pengertian puasa 
Macam-macam puasa
      Bab 2 Puasa Ramadhan
Sejarah puasa ramadhan
Syarat dan rukun puasa ramadhan 
Hal yang membatalkan puasa ramadhan
      Bab 3 Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan
Bulan diturunkannya Alquran
Bulan penuh keberkahan
Bulan penuh pengampunan
Dibukakannya pintu surga dan ditutupnya pintu Neraka
Pahala dilipat gandakan
Adanya malam Lailatul Qadar
Bulan Ramadhan bagian dari Rukun Islam
Bulan mustajab untuk berdoa
Puasa bulan ramadhan pahalanya senilai puasa 10 bulan
      Bab 4  Malam Lailatul Qadar
Tanda-tanda malam lailatul qadar
Keutamaan malam lailatul qadar
Amalan yang dilakukan pada malam lailatul qadar
      Bab 5  Hikmah Bulan Suci Ramadhan







BAB 1
PENGERTIAN PUASA
Agama Islam merupakan suatu agama yang diwahyukan kepada nabi terakhir yaitu nabi Muhammad Saw sebagai bentuk rahmat bagi seluruh alam tanpa terkecuali, begitupun juga syariat, ajaran serta nilai - nilai  yang terkandung di dalamnya, Agama Islam juga berpedoman pada kitab suci Al Qur'an yang merupakan dasar atau landasan didalam menjalankan syariat, kitab suci Al qur'an juga merupakan  kitab penyempurna dari kitab - kitab sebelumnya.sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa kebenaran  ajaran  agama Islam telah terbukti hingga saat ini.Pembuktian tersebut telah diakui oleh seluruh umat manusia baik dalam bidang sains, teknologi, kedokteran bahkan keilmuan astronomi.
Maka dari itu sebagai kaum muslimin sudah sepatutnya merasa bangga dan yakin tanpa ada keraguan terhadap kebenaran yang dibawakan oleh ajaran  islam
Adapun kita sebagai kaum muslimin wajib menjalankan segala bentuk perintah yang di perintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala larangannya
Diantara salah satu bentuk perintah juga syariat dalam beragama islam yaitu, perintah untuk melaksanakan ibadah  Pada bulan suci ramadhan, seorang muslim yang sudah baligh, mukmin (bukan musafir), berakal sehat, serta mampu untuk menahan rasa lapar dan dahaga maka baginya diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa. 
Sebagaimana diwajibkannya ibadah-ibadah lainnya, adapun pengertian dari ibadah puasa memiliki banyak arti yang berbeda-beda dikalangan para ulama, namun memiliki makna juga kesimpulan yang sama yaitu 
  secara bahasa (etimologi) berasal dari kata ( الصِّىام) yang artinya menahan diri, maknanya setiap suatu bentuk kegitan menahan diri atau diam bisa disebut dengan puasa.namun secara pandangan syariat puasa menurut istilah atau (terminologi) berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa baik makan, minum, syahwat dan lain sebagainya yang dapat membatalkannya dimulai dari menjelang fajar  sampai terdengarnya adzan maghrib.

MACAM – MACAM PUASA
Kebanyakan orang ibadah puasa hanya dilakukan pada bulan suci ramadhan,tetapi sebernya  puasa itu terbagi 4  macam yang orang lain jarang diketahui yaitu :
Puasa wajib.
Puasa sunnah
Puasa makruh
Puasa haram 
PUASA WAJIB
Puasa wajib adalah ibadah puasa yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu dan jika tidak dilakukan atau dilaksanakan mendapatkan dosa dan yang melaksanakan ibadah puasa mendapatkan padahal dari Allah SWT.
Puasa wajib terdiri dari beberapa macam diantaranya:
Puasa Ramadhan,
Puasa Ramadhan adalah puasa yang waktu pelaksanaan nya 1 bulan penuh pada bulan ramadhan.spesialnya puasa ramadhan hanya bisa lakukan dibulan ramadhan dan tidak bisa dilakukan dibulan lain tetapi ada keringanan bagi yang tidak bisa berpuasa dibulan ramadhan dengan alasan sesaui ketentuan atau syarat berpuasa maka boleh dilakukan dibulan lain ( meng-qodo) hukumnya wajib. bagi yang Yakni puasa sebulan penuh dibulan ramdhan yang  bagi setiap umat muslim yang sudah baligh. Kewajiban melaksanakan puasa dibulan ramadhan terdapat dalam Qur’an surat Al-baqoroh ayat 183.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ - ١٨٣
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Surat Al Baqarah ayat 183 di atas menjelaskan tentang perintah untuk berpuasa.kewajiban puasa dalam ayat di atas dilakukan untuk mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan.

Puasa Nadzar.
Nadzar secara bahasa adalah janji untuk melaksanakan hal baik atau buruk,  maka puasa nadzar dapat diartikan sebagai puasa yang dilakukan karena memiliki sebuah janji, Sehingga puasa yang dinadzarkan hukumnya wajib.
Puasa Kafarat atau Kifarat
kafarat atau kifarat dalam segi etimologi (bahasa) mengandung arti denda yang wajib ditunaikan seseorang atas suatu perbuatan dosa.puasa ini merupakan puasa yang dilakukan untuk menggantikan dam atau denda atas pelanggaran yang hukumnya wajib. 

PUASA SUNNAH
Puasa sunah merupakan puasa yang berbeda dari puasa wajib,jika puasa wajib tidak dilaksanakan akan mendapatkan dosa sedangkan puasa Sunah tidak dilaksanakan tidak akan mendapatkan dosa.ada bebepa macam puasa sunah yaitu :
Puasa sunnah senin kamis.
Puasa sunnah syawal
Puasa muharrom
Puasa arofah
Puasa di bulan Sya’ban.
Puasa daud

PUASA MAKRUH
Puasa makhruh adalah puasa yang boleh dikerjakan, seperti contoh: Jika melakukan puasa pada hari jumat atau sabtu, dengan niat dikhususkan atau disengaja maka hukumnya makruh kecuali bermaksud atau berniat mengqodho puasa ramadhan, puasa karena nadzar ataupun kifarat
PUASA HARAM
Sepertinya namanya puasa haram adalah tidak boleh dikerjakan karna hukumnya haram,maka apabila dilaksanakan akan mendapatkan justru akan berdosa,macam macam puasa haram yaitu :
Hari Raya Idul Fitri
Hari Raya Idul Adha
Hari Tasyrik. 












BAB 2
SEJARAH PUASA
Kita dapat mempertanyakan mengapa didalam satu tahun ada satu bulan yang dimana kita diwajibkan berpuasa didalamnya, dan kenama umat islam dan umat-umat sebelumnya? 
Syekh Manna' Al- Qaththan menceritakan, awal mula berpuasa disyaratkan sesudah peristiwa hijrah  setiba di madinah al munawwarah. rasulullah SAW memberi informasi dan menjelaskan puasa asyura (10 muharram), sebelum diwajibkannya puasa dibulan ramadhan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas RA, “ Ketika sampai di Madinah, Rasulullah SAW mengetahui sekaligus menyaksikan umat yahudi Madinah menjalankan puasa dibulan asyura. Rasulullah SAW bertanya. puasa apa?` Ini hari baik (asyura). Allah menyelamatkan nabi musa dan bani israil dari musuh mereka pada hari (10 Muharram). dan rasulullah ikut berpuasa dihari itu dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa pada hari itu. Bulan asyura adalah bulannya allah,  allah menenggelami fir`aun dilatutan dan menyelamatakan nyelamatkan nabi musa dan bani israil, nabi musa pun berpuasa dihari itu untuk memberikan rasa syukur kepada allah.
SYARAT PUASA
Syarat wajib ialah syarat yang setiap manusia harus melakukan sebelum menunaikan ibadah, dan itu menjadi suatu hal yang mutlak dan tidak bida ditawar dengan alasan apapun. Jika setiap insan tikan mampu melakukan syarat wajib makan gugurlah suatu kewajiban kepadanya.
Untuk syarat pertama yang harus dilakukan untuk menjadi wajib  menjalankan suatu ibadah puasa, khususnya dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, yakni mereka seorang muslim dan mukmin laki-laki maupun perempuan. Puasa adalah salah satu ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang tersebut, karna sudah masuk ke rukun islam dah itu menjadi kewajiban yang mutlak, dan juga diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Muslim : 
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ
“ Dari abi Abdurrahman, Abdullah Ibnu Umar Ibn Khattab r.a, berkata : saya mendengar rasulullah SAW bersabda : Islam didirikan dengan lima hal, dengan bersaksi mengucap dua kalimat syahadat, bersaksi bahwa tiada tuhan selain ALLAH bahwa nabi Muhammad utusan allah, Mendirikannya shalat, menunaikan zakat, mengerjakan haji, di Baitullah (Ka`bah), dan menjalankan puasa di bulan ramadha.” (Hadits Shahih, diriwayatkan al-Bukhari: 7 Muslim: 19)
Syarat selanjutnya yakni yang kedua seseorang diwajibkan atasnya untuk menjalankan puasa Ramadhan, dengan keriteria baligh, dengan ketentuan baligh yaitu dia yang pernah keluar mani dari kemaluannya, baik baik sadar ataupun tidak sadar, baik dalam keadaan tertidur maupun dalam keadaan bangun. Untuk perempuan yakni dia yang sudah keluar haid. Untuk syarat minimalnya ketika laki-laki maupun perempuna keluar mani dan haid yakni 9 tahun. Sebagaimana dalam hadits dijelaskan: 

رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ
“Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: orang yang tidur sapai ia terbagngun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh.” (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadits riwayat al-Nasa’i)
Ketika dia (laki-laki dan perempuan) tidak keluar darah  haid masa usia minimalnya, maka batas maksimal akhir baligh yakni berusia 15 tahun. Bahwa islam tidak mewajibkan bagi seseorang laki-laki maupun perempuan yang belum baligh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dikarnakan melihat faktor usia yang terlalu dini untuk menjalankan ibadah wajib, oleh karnanya mereka diperbolehkan berpuasa ketika dia mampu, dan tidak diwajibkan ketika dia tidak mampu menjalankan puasa Ramadhan.
Syarat yang ketiga untuk menunaikan puasa, yakni berakal sehat. Seseorang yang sudah memasuki dewasa, lalu disertai akal sehat, maka menjadi syarat wajib untuk menunaikan puasa. Misalkan, jika seseorang dilanda mabuk atau dalam keadaan gila, maka gugur sudah kewajibannya untuk berpuasa. Sebagaimana sabda baginda Nabis dalam hadits: 
رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ
“Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: orang yang tidur sapai ia terbagngun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh.” (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadits riwayat al-Nasa’i)
Setelah keempat untuk menunaikan puasa yakni mampu menjalankan puasa. Kriteria mampu disini merupakan orang yang mampu menjalankan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Bagi yang tidak mampu seperti orang-orang yang sudah sepuh, diberikan keringanan untuk tidak puasa dan digantikan dengan fidyah. Sebagaimana dalam Firman Allah Swt.:
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” (QS. Al Baqarah ayat 185).
Lalu syarat terakhir agar puasa ramadhan diterima, adalah  mengetahui awal puasa ramadhan. Apabila salah satu syarat tersebut tidak dipenuhi, maka tidak mendapati kewajiban untuk berpuasa. Dalam mazhab imam Syafi’i, beliau menjelaskan bahwa agar diketahui awal ramadhan, maka dilakukan metode Ru’yatul Hilal, yakni melihat hilal. Apabila telah terlihat, maka umat muslim di suatu negeri diwajibkan untuk puasa.




RUKUN PUASA
Pengertian Rukun
     Sebelum kita membahas tentang rukun puasa di bulan ramadhan, kita juga harus paham apa arti dari kata rukun itu sendiri. Dalam ajaran Islam, kita mengenal istilah 'rukun', contohnya rukun iman, rukun Islam, dan rukun sholat, serta masih banyak lagi rukun-rukun lainnya. Makna rukun dalam konteks ajaran Islam tidak sama dengan kata rukun yang kita kenal dalam bahasa Indonesia.
     Pengertian rukun dalam bahasa arab ditulis Al-Ruknu, sedangkan jamaknya adalah Al-Arkaanu. Dalam bahasa Arab, makna rukun adalah tiang sandaran penyangga utama atau tiang penopang. Sedangkan dalam istilah fiqih, rukun bermakna sesuatu yang ada dalam suatu amalan yang harus dikerjakan, jika rukun ditinggalkan, maka yang akan terjadi adalah amalan tersebut batal atau tidak sah, sehingga rukun dapat dikatakan sebagai sesuatu yang harus dikerjakan dalam memulai suatu pekerjaan yang dimana dalam ajaran Islam rukun merupakan hal yang pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Seperti salah satu contohnya ketika seseorang mengerjakan sholat, namun tidak membaca Surat Al Fatihah yang merupakan salah satu rukun sholat, maka sholatnya menjadi tidak sah atau batal meskipun dia telah melakukan seluruh rangkaian rukun sholat lainnya.

Rukun dalam ibadah puasa
    Puasa memiliki 2 rukun yang menjadi inti dari ibadah dalam amalan tersebut, yang dimana jika 2 rukun ini tidak kita lakukan, maka tidak akan sah amal ibadah puasa kita, atau bahkan mungkin bisa menjadi sia-sia. Maka dari itu, rukun dalam ibadah puasa ini sangatlah penting bagi kita selaku umat muslim dalam memahami rukun puasa sebelum menjalankan ibadah puasa.
Apa saja 2 rukun puasa itu?
1. Niat
  Arti kata Niat dalam basaha Arab adalah  نية Niyyat  yamg artinya adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah SWT. Sama hal nya dengan kita niat untuk berpuasa yang dimana niat sudah harus dibaca oleh orang yang hendak berpuasa sebelum terbitnya fajar. Begitu juga sebaliknya, puasa menjadi tidak sah apabila tidak didahului niat sebelum waktu fajar tersebut. Anjuran ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang dinukil dari Hafsah RA, Rasulullah bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Artinya: "Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya," (HR.Tirmidzi).
    Maka dari itu niat adalah satu hal yang sangat penting untuk kita lakukan, karena segala sesuatu itu tergantung pada niatnya, jika kita tidak membaca niat terlebih dahulu sebelum melakukan ibadah puasa, maka akan sia-sia kita berpuasa, karena yang dinamakan tidak sah adalah tidak akan diterimanya amal perbuatan yang kita lakukan.
2. Menahan diri (Imsak)
   Rukun puasa yang kedua ini biasa kita sebut dengan imsak. Imsak disini memiliki arti sebagai menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami istri, dan semua hal yang membatalkan puasa sejak waktu fajar hingga matahari terbenam.
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 187, menjelaskan perihal menahan diri

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Artinya: "Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam..."
     Waktu imsak dimulai sejak waktu fajar hingga matahari terbenam pada sore harinya atau di waktu maghrib. Namun, karena ada beberapa wilayah yang mengalami ketidakseimbangan perputaran jadwal siang dan malam, maka pendapat mengenai waktu imsak dapat dibagi menjadi 2 pendapat yang diantaranya adalah

1. Mengikuti waktu Hijaz
Jadwal puasa dan sholatnya mengikuti jadwal yang ada di Hijaz yaitu di Mekah, Madinah, dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan dari tempat terbitnya dan munculnya Islam pertama kali berada di wilayah tersebut.
2. Mengikuti waktu wilayah Islam terdekat
Contohnya ketika kita sedang berada di kutub, jadwal puasa dan sholat di kutub mengikuti waktu puasa di wilayah yang penduduknya muslim dengan jarak terdekat. Wilayah Islam yang dimaksud adalah wilayah yang dipimpin oleh seorang sultan atau khalifah muslim.
HAL YAG MEMBATAL KAN PUASA
Beberapa perkara yang membatal kan pahala dan puasa, berlaku juga bagi semua puasa yang wajib atau yang sunnah, dalam melakungan ibadah puasa perlu sikap hati-hati agar terhindar segala hal atau perkara yang membatal dan mengurangi nilai ibadah yang dijalan kan agar bisa mendapat kan pahala yang berlimpah di bulan ramadhan, bulan yang penuh ampunan.
Yang dapat membatal kan puasa
Memasukan sesuatu kedalam rongga badan dengan sengaja, misalnya seperti makan, minum, merokok, bahkan memasukan benda kedalam telinga dan hidung. Tapi jika karena lupa tidak membatal kan puasa.
Muntah dengan di sengaja 
Haid dan nifas
Jima’ pada hari akhir
Gila
Mabuk atu pingan seharian
Murtad

Disini diterang tentang saksi orang yang jima’ ( bercampur ) bila di siang hari di bulan ramadhan orang yang berjima’ ( hubungan suami istri ) di siang hari bulan ramadhan, puasanya batal. Ia di jaajib kan untuk membayar denda atu kifarat, sebagai mana yang dinyatan oleh rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِامْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَاسْتَفْتَي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذلِك٬ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً ؟ قَالَ: لَا. وَهَلْ تَسْتَطِيْعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ ؟ قَالَ: لَا. فَأَطْعِمْ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا. (رواه مسلم(.
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya seorang laki-laki pernah bercampur dengan istrinya siang hari pada bulan Ramadhan, lalu ia minta fatwa kepada Nabi Saw. : “Adakah engkau mempunyai budak ?. (dimerdekakan). Ia menjwab : Tidak. Nabi berkata lagi : “Kuatkah engkau puasa dua bulan berturut-turut ?”. Ia menjawab : Tidak. Sabda Nabi lagi : “Kalau engkau tidak berpuasa, maka berilah makan orang-orang miskin sebanyak enam puluh orang”. (HR.Muslim)
Semua perkara yang membatal kan puasa dari terbit fajar ( subuh ) sampai terbenam matahari ( magrib ).
Hal yangtidak  dapat membatalkan puasa
Menelan ludah
Berkumur sedang puasa
Sikat gigi
Mencium aroma masakan
Keluar darah dari luka tidak sengaja
Muntah 
Muntah disengajasepert misalnya sakit
Pingsan jika sempat sadar di siang hari

Hal yang dapat membatal kan pahala puasa
Mengakatan ucapan dusta atau bohong
Menggunjing ( membicarakan keburukan orang lain )
Memberikn kesaksian palsu
Mengakatan kata-kata kotor dan keji
Mengatakan kata-kata yang tidak manfaat
Adu mulut dalam pertikaian 
Berbuat dengki yang merugikan org lain
Melihat perempuan dengan nafsu
Mencium wanita yang bukan muhrim
Melakukan mencuri dan sebagai nya
KETENTUAN BAGI ORANG YANG TIDAK PUASA

SAFAR ( BERPERGIAN )
 
Allah berfirman dalam al-baqarah ayat 185 :
وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Safar yang diizin kan untuk berbuka puasa adalah safar yang berpergian minimal kira-kiea 89km. Safar menurut mayoritas ulama, harus dilakukan sebelum terbit matahari. Jika dia sudah berpuasa saat melumulai perjalanan karena memulai perjalanan setelah sahur/subuh tidak di anjur kan untuk membatalkan puasa. Masuk kawasan gura’ al-ghamim ( nama sebuah jurang di asfan’, dataran tinggi madinah ) nabi masih berpuasa, sehingga paraha sahabt nya mengikuti masih berpuasa. Kemudian rasolullah mendengar sebuah kabar bahwa “ rombongannya sudah berat untuk menerus kan puasa, anya saja mereka menungg yang rosul lakukan, anggota rosul ada sebagian memerhatikan, dan ada juga yang membatal kan puasanya, dan sebagian banyak yang masih bertahan berpuasa. Setelat rosul di beritahu bahwa masih ada yang berpuasa. Maka rossul bersabda, “ maa mereka yang tidak berpuasa itu orang orang yang keras “ . hadir ini menjelas kan bahwa seorang musafir boleh membatal kan puasa walau mereka sudah melulai sebelum itu. Ulama malikiah menambah kan: berniat lah tidak puasa pada malam harinya. Seorang musafi harus tetap mengqada sebagai mana rosul pernah melakukannya., seperti adist di atas. 
SAKIT

Sakit yang memboleh kan untuk membuka puasa adalah yang bisa menyebab kan si penderita tidak mampu untuk melakukan puasa atau bila dia berpuasa akan memperparah kondisinya, memperlambat kesembukan, atau bisa mengakibat kan kematian. Tetapi jika seseorang menderita penyakit ringan seperti koreng, flu, ti diajur kan membatal kan puasa. Dan seseoang yang sedang di keadan sehat tetapi dia khawatir bila puasa menjadi sakit menurut ulama dan malkiyah, dia dihukumi seperti orang sakit.

HAMIL DAN MENYUSUI

Seseorang yang hamil dan menyusui boleh meninggal kan ibadah puasa jika ia menghawatir kan kesehatan diri dan bayinya. Kekhawatiran ini berdasarkan diagnosa dokter atau ketakutan diri sendiri .ketentuan seperti ini di landas kan qias pada orang sakit dan musafir, dan hadis nabi: “ sesungguh nya allah memberikan keringanan bagi musafir, untuk orng sakit untuk tidak berpuasa, mengqhasar shalat,dan meringan kan bagi perempuan yang hamil dan menyusui “ dan jiga perempuan hamil dan menyusui khawatir menimbulkan sesuatu yang kronis akibat ia puasa maka haram hukumnya berpuasa bagi beliau. 
Jika mereka tidak berpuasa maka apakah wajib di qhada dan membayar fidyah? 
Menurut hanafiyah : mreka wajib mengqhada tetapi tidak membayar fidyah
Menurut hanbaliyah : mereka wajib untuk mengqhada dan membayar fidyah, jika ia menghawatikan keselamatan bayinya saja tidak diri merekanya sendiri.
Menurut malikkiyah : di wajib kan untuk mengqhada bagi orng hamil dan menyusui dan juga membayar fidyah.

LANJUT USIA

Berdasarkan ijma ‘ kaum muslim, seorang yng lanjut usia yang sudah tidak mampu untuk berpuasa, baik bulan ramadhan atau pun bulan lainnya di boleh kan untuk tidak berpuasa dan tidak wajib mengqhadanya melain kan mereka harus membayar fidyah yang di berikan kepada orang orng yang membutuh kan. Sebagai firman allah berfirman pada QS Al-baqarah ayat 184. Menurut ibnu abas ayat tersebut membahas tentang seseorang yang lanjut usia yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka mereka wajib membayar fidyah kepada orang miskin pada tiap harinya.
Ni juga bisa berlaku bagi orang sakit yang tidak diharap kan kesembuhannya. Berdasar kan firman allah “ dan sekali kali dia ( allah ) tidak menjadikan bagi kamu bagi agama dalam kesempitan” QS Al – hajj ayat 78, dan apabila mereka yang masihakan bisa sembuh maka wajib untuk mengqhada tanpa membayar fidyah

 LAPAR DAN DAHAGA YANG TIDAK BISA DI TAHAN

Seseorang yang lapar dan dahaga tidak tertahan lagi, sekiranya ia berpuasa akan menemui kepayahan, maka dari itu ia boleh membatalkan puasanya dan lalu mengqhadanya. Bahakn saja ia wajib membatal kan puasanya jika diduga akan mendapat kan mudharat dan merusak mekanisme ( syarat ) tubuh. Fiman allah “..... dan jangan lah ngkau menjatuh kan dirimu kedalam kebinasan”  QS Al baqarah ayat 195.








BAB 3
Sembilan Keistimewaan dari Bulan Suci Ramadan
Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu bagi umat Islam, karena bulan Ramadan adalah bulan dengan ladang pahala. Segala amal kebaikan yang kita lakukan akan mendapat pahala yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Maka tidak heran ketika banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan seperti bersedekah, banyak berdoa memohon pengampunan, dan banyak bertadarus selama bulan Ramadan hanya untuk menumpuk pahala kebaikan dan mendapat ridha Allah SWT. Diantara keuntungan berpuasa di bulan Ramadan, terdapat juga beberapa keistimewaan dari bulan suci ini, antara lain:
Bulan Ramadan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an
Salah satu keutamaan dari bulan Ramadan adalah bulan suci ini merupakan bulan Al-Qur’an atau disebut juga Syahrul Qur’an. Allah SWT berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ 
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)". (QS. Al-Baqarah: 185).
Bulan Penuh Keberkahan
Bulan Ramadhan juga kerap disebut dengan bulan syahrun mubarak. Hal ini berdasarkan pada dalil hadits Nabi Rasulullah SAW,
حقًا ، لقد حان لك شهر مليء بالبركات. صيام هذا الشهر واجب عليك
"Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian.." (HR. Agmad, An-NasaI dan Al-Baihaqi).
Selain itu, setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan ini, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya.
Tidak hanya itu di dalam bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan ini, maka tidak hanya keberkahan di dalam menuai pahala, melainkan banyak keberkahan lainnya. Keutamaan bulan Ramadhan juga ditinjau dari aspek ekonomi, di mana Ramadhan memberi keberkahan ekonomi bagi para pedagang dan lainnya.
Sedangkan bagi fakir miskin, Ramadhan membawa keberkahan tersendiri. Pada bulan Ramadhan ini, seorang muslim digalakkan dan disunnahkan untuk berinfaq dan bersedekah. Bahkan diwajibkan untuk membayar zakat fitrah.

Bulan Penuh Pengampunan
Bulan Ramadhan merupakan sebuah momen yang paling baik untuk penghapusan dosa-dosa atau bertaubat.
Nabi SAW bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
"Salat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim)
Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan ini, maka bisa menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 
Selain itu, salat tarawih yang dikerjakan pada setiap malam di bulan Ramadan juga dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang melakukan salat malam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dibukanya Pintu Surga dan Ditutupnya Pintu Neraka
Bulan Ramadhan adalah dimana pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta setan-setan diikat.
Dengan demikian, Allah SWT telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang telah diperbuat pada bulan Ramadhan.

Pahala Dilipatgandakan pada Bulan Ramadhan
Selain itu, amalan-amalan pada bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
أجر العمرة في رمضان يساوي أجر الحج
"Pahala umrah pada bulan Ramadhan menyamai pahala ibadah haji." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan keutamaan bulan Ramadhan dalam riwayat yang lain juga disebutkan, pahala umrah pada bulan Ramadan menyamai pahala ibadah haji bersamaku (Nabi).
Dalam riwayat lain juga disebutkan, Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, Abu Bakr bin Abi Maryam mengatakan bahwa banyak guru-gurunya yang berkata,
"Apabila telah tiba bulan Ramadhan, maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq di bulan Ramadan dilipatgandakan bagaikan infaq di jalan Allah, dan tasbih di bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain."
Adanya Malam Lailatul Qadar
Keutamaan bulan Ramadhan lainnya adalah dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan Ramadan, yaitu malam Lailatul Qadar.
Di bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadan adalah saat diturunkannya Alquranul Karim.
Bulan Ramadhan Bagian dari Rukun Islam
Allah SWT telah menjadikan puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan sebagai rukun yang keempat dari rukun Islam.
Hal ini tertulis dalam ayat al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara mereka yang menyaksikan (berada) di bulan itu, maka berpuasalah."
Dalam hadis juga telah disebutkan, Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW, bersabda:
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Bulan Mustajab Untuk Berdoa
Keutamaan bulan Ramadhan selanjutnya adalah doa yang dipanjatkan pada saat bulan Ramadhan lebih mustajabah. Hal ini sesuai hadis Rasulullah SAW:
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
"Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan." (HR. al-Bazaar, dari Jabir bin Abdillah. Al-Haitsami dalam Majma Az Zawaid mengatakan bahwa perawi hadis ini tsiqah (terpercaya).
Selain itu juga dipertegas dalam hadis lain. Rasulullah SAW, bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَتُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ اَلصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَاْلإمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُوْمُ
"Tiga orang yang doanya tidak ditolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terdzolimi." (HR. at Tirmidzi).
Puasa Bulan Ramadhan Pahalanya Senilai Puasa 10 Bulan
Abu Ayub Al-Anshary meriwayatkan hadist Rasulullah SAW:
من صام (في رمضان) ثم صام ستة أيام في شوال فهو كصيام سنة
"Barangsiapa yang berpuasa (pada bulan Ramadhan) kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu sama seperti puasa setahun." (HR. Muslim)
Selain itu, juga ditegaskan dalam hadis Nabi yang lain. Imam Ahmad meriwayatkan, Nabi SAW bersabda:
من صام شهر رمضان ، فالشهر مثل عشرة أشهر. ومن صام بعد ذلك صام ستة أيام بعد العيد فهو كصيام السنة
"Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, maka satu bulan sama seperti sepuhu bulan. Dan siapa yang berpuasa setelah itu, berpuasa selama enam hari sesudah Id (Syawawl), hal itu sama nilainya dengan puasa sepurna satu tahun." (HR. Ahmad).
BAB 4
MALAM LAILATUL QADR
Saat ini sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, umat muslim lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT karena akan datangnya malam Lailatulkadar (Lailatul Qadar), yakni malam penetapan dan kemuliaan, yang menurut Alquran lebih baik dari pada seribu bulan dan hari-hari itulah Allah SWT memberikan balasan berupa pembebasan dari siksa api neraka. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang menentukan bagi perjalanan sejarah hidup manusia pada masa yang akan mendatang. Malam itu menjadi titik tolak meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat. Malaikat turun untuk menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupan baru di kemudian hari.Pada saat itu, umat muslim dianjurkan untuk melakukan iktikaf yakni tinggal di masjid atau berdiam didalam masjid , khusus untuk melakukan ibadah. Seperti ibadah mahdah dan ghairu mahdah, yakni seperti melakukan sholat membaca al quran dan membaca dzikir kepda allah SWT dan tidak lupa untuk menolong antar sesama umat ketika ada yang membutuhkan pertolongan.  
Ciri Cri Datangnya Malam Lailatul Qadr

Udara dan angin terasa tenang dimalam hari
Hadis diriwayatkan Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, malam lailatul qadar ditandai dengan udara dan angin yang sangat tenang.
"Lailatul qadar ialah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, dan juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan,"
"Malam Lailatul qadar ialah malam yang sejuk tidak panas dan tidak dingin, di pagi hari, cahaya mentarinya lembut dan berwarna merah,"
Kedua hadis tersebut menunjukkan suasana ketika malam lailatul qadar yakni dari malam hari hingga menjelang fajar.

Pada malam hari langit nampak terlihat bersih
Di malam lailatul qadar, langit tampak bersih. Artinya  tidak tampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin, dan tidak panas.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dalam Mu'jam at-Thabari al-Kabir disebutkan bahwa, Rasulullah SAW bersabda:
"Malam lailatul qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak, dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas," hadis riwayat Ahmad.

Terbit matahari tidak menyengat
Ciri-ciri lainnya dari malam lailatul qadar adalah matahari yang tidak menyengat.
"Dari Ubaiy bin Ka'ab, Rasulullah bersabda, 'Pagi hari dari malam lailatul qadar terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi,'" hadis riwayat Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud.
Malaikat turun membawa ketenangan
Di malam lailatul qadar, malaikat akan turun ke bumi membawa ketenangan tersebut bagi orang-orang yang beriman, atau kepada orang muslim dan muslimat
Terjadi pada malam ganjil
Malam lailatul qadar terjadi pada malam ganjil sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan yakni di antara malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Sejumlah ulama berpendapat setiap umat Islam yang ingin mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar sebaiknya beribadah dengan tekun tanpa harus mencari ciri-ciri malam lailatul qadar.
Keutamaan malam lailatul qadar bakal diberikan kepada setiap orang terpilih yang beribadah dengan sungguh-sungguh









KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QADAR

Pada bulan Ramadhan, salah satu yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia adalah kedatangan malam lailatul qadar. Pada malam ini, dikatakan bahwa memiliki kebaikan setara dengan seribu bulan. Apa saja keutamaan dari Malam Lailatul Qadar? Simak penjelasan berikut!
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadr: 1-5).
Meskipun malam lailatul qadar ini tidak diketahui kapan datangnya, namun umat Islam sudah bisa menanti sejak 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.
“Rasulullah bersabda: “Carilah malam lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Imam Bukhari).

Malam diturunkannya Al-Qur’an
Keutamaan malam lailatul qadar yang pertama adalah malam tersebut merupakan malam diturunkannya Al-Qur’an. Sesuai dengan firman Allah SWT di surat Al-Baqarah dan Al-Qadr.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran…” (Q.S Al-Baqarah: 185)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan” (Q.S Al Qadr: 1)
Lebih baik dari seribu bulan
Keutamaan malam lailatul qadar yang kedua adalah malam tersebut lebih baik dari pada seribu bulan. Allah SWT berfirman,
“Tahukah kamu apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S Al-Qadr:2–3)
Banyak ulama berpendapat bahwa ibadah dan amalan baik yang dilakukan di malam lailatul qadar, akan dibalas dengan pahala yang sangat besar.
Malam keberkahan
Keutamaan malam lailatul qadar yang ketiga yaitu malam tersebut dipenuhi dengan berkah. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (Q.S Al-Dukhan: 3-5)
Malam penuh kesejahteraan 
Keutamaan malam lailatul qadar yang keempat yaitu malam lailatul qadar adalah malam yang penuh kesejahteraan.
Selain penuh dengan keberkahan, malam lailatul qadar juga dipenuhi dengan kesejahteraan dan kedamaian. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Qadr,
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S Al-Qadr: 5).

Para Malaikat turun ke bumi
Keutamaan malam lailatul qadar yang kelima adalah pada malam tersebut, para malaikat akan berbondong-bondong turun ke bumi. Maka pada malam tersebut dianjurkan bagi umat muslim untuk banyak berdoa. Allah SWT berfirman:
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (Q.S Al-Qadr: 4).
Malam penuh ampunan
Keutamaan malam lailatul qadar yang keenam yaitu pada malam itu, dosa umat muslim akan diampuni. Pada malam lailatul qadar, Allah SWT membuka lebar-lebar pintu ampunan bagi siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya.

Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, dan Ahmad).



Malam penuh kebaikan
Keutamaan malam lailatul qadar yang ketujuh adalah malam lailatul qadar merupakan malam yang penuh kebaikan. Pada malam tersebut dianjurkan bagi umat muslimin mengerjakan ibadah dan amalan baik dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Namun bagi mereka yang mengabaikan malam tersebut maka akan menjadi orang-orang yang merugi, karena mereka melewatkan kesempatan untuk mendapatkan banyak pahala dan keutamaan, yang bahkan setara dengan seribu bulan. Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya bulan Ramadhan ini telah menghampiri kalian. Dan di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari menjumpainya, maka sungguh dia telah terhalang dari seluruh kebaikan. Dan tidaklah terhalang dari menjumpainya kecuali orang-orang yang merugi.” (HR. Ibnu Majah).

AMALAN DIMALAM LAILATUL QADAR
Lailatul Qadar adalah malam yang dinantikan oleh seluruh umat muslim diseluruh dunia, karena malam Lailatul Qadar penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. 
Amalan yang dikerjakan  pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkan kemuliaan dan pahala yang berlipat ganda. Seluruh umat muslim dianjurkan untuk melakukan banyak amalan di malam Laitul Qadar terutama di sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan .
Dalam Hadist disebutkan bahwa tanggal-tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan merupakan waktu datangnya malam lilatul qadar. 
Nabi Muhammad SAW hanya mengisyaratkan dalam hadistnya untuk mencari lilatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
 Jabir ibnu Abdullah. Bahwa rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya aku telah melihat malam Lailatul Qadar, lalu aku dijadikan lupa kepadanya, dan malam Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.
Berikut amalan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW di pengunjung Ramadhan:
Medirikan shalat malam atau Qiyamul Lail
Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar dengan beribadah, shalat, dzikir dan ibadah lainnya sampai waktu fajar.
Membaca Al-Qur’an
Memperbanyak membaca Al-Qur’an menjadi salah satu ibadah utama di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Banyak umat islam yang meluangkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an di sepanjang malam Lailatul Qadar baik dimasjid ataupun dirumah. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang ringan tetapi memiliki keutamaan yang besar.
Mengerjakan shalat isya dan shubuh berjamaah
Keutamaan malam Lailatul Qadar itu bisa diraih bagi siapa yang hanya mengerjakan shalat Isya’ dan Subuh secara berjamaah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Riwayat dari Abu Hurairoh bahwa:
“ Barang siapa yang shalat Isya’ dan Subuh terakhir secara berjamaah makai a telah mendapatkan (keutamaan) malam Lailatul Qadar”
Memperbanyak sedekah
Memperbanyak sedekah menjadi salah satu amalan utama disepuluh malam terakhir sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan, serta sebagai penyempurna ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena tidaklah sempurna keimanan dan kualitas ibadah seseorang apabila adanya keseimbangan antara Hablum minallah dan Hablum minannas.
I’tikaf 
I’tikaf berarti berdiam diri di Masjid dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. I’tikaf memiliki kekhusuan tempat dan aktivitas kepada Allah SWT dengan berdzikir dan berdo’a, membaca Al-Qur’an, Shalat Sunah, Bershalawat, bertaubat, beristighfar, dan ibadah lainnya. I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih diutamakan memasuki sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan.
Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Ibadah lain yang bis akita lakukan selain membaca Al-Quran adalah memperbanyak Dzikir dan istighfar dapat dilakukan untuk meraih  malam Lailatul Qadar. Dzikir yang bisa dibaca adalah tasbih, tahmid, takbir dan tahlil sebanyak 100 kali atau 1000 kali. Namun, jika tidak mampu maka bacalah semampu kita.
Memperbanyak do’a untuk memohon ampunan Allah SWT
Hal yang dianjurkan setiap saat adalah memohon ampunan kepada Allah SWT terutama disepuluh malam terakhir Ramadhan. Memohonan ampunan kepada Allah SWT dengan khusu dan berserah diri agar do’a-do’a kita dikabulkan.



















BAB 5
Hikmah di Bulan Suci Ramadhan

Setelah membaca pembahasan-pembahasan sebelumnya kita jadi mengetahui hal-hal mengenai puasa ramdhan hingga keistimewaan bulan suci Ramadhan. Hal tersebut sangatlah berhubungan erat dengan hikmah di bulan suci Ramadhan. Maka dari itu mari kita jupas tuntas apa saja sih hikmah di bulan suci Ramadhan 
Melatih Hawa Napsu
Sebagaimana yang kita ketahui, pada bulan suci Ramadhan setan dan jin dikunci rapat-rapat di neraka. Maka dari itu hal tersebut seharusnya dapat membuat pribadi kita menjadi terkontrol akan hawa dan nafsu. Seperti yang disebutkan dalam (QS. Yusuf : 53)

 وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Menjalin Silaturahmi 
Tradisi Mudik lebaran dan berkumpul keluarga menjadi salah satu jalan untuk memperat tali silaturahmi antar keluarga, kerbat bahkan teman yang jauh sekalipun. Perasaan rindu dibalut keceriaan bercampur aduk menjadi satu yang mana hal tersebut membuat orang-orang  menjadi rindu bulan suci Ramadhan. Sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nahl ayat 90 

اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَالۡاِحۡسَانِ وَاِيۡتَآىِٕ ذِى الۡقُرۡبٰى وَيَنۡهٰى عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡكَرِ وَالۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُوۡنَ 
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."  


Meningkatkan Ketaqwaan Kepada Allah SWT

Bulan Suci Ramdhan merupakan bulan yang penuh dengan amalan sehingga kita sebagai umat manusia harus bertaqwa dan mendekatat kan diri kepada Allah SWT dengan cara memperbanyak berbuat amal soleh, Apalagi di bulan Ramadhan ini menjadi ladang ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam Quran :

(QS. Al-Hujarat : 13) 
اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا لَقْنٰكُمْ اُنْثٰى لْنٰكُمْ ا اۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا اِنَّ اَكْرَمَكُمْ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ اِنَّ اللّٰهَ لِيْمٌ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami membuka kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.


Peduli Sesama 

Karena di bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh amalan banyak orang berbondong-bondong untuk mencari kebaikan salah satunya peduli sesama. Tradisi saling berbagi makanan dan takjil menjadi salah satu hal yang tak pernah terlewatkan pada bulan suci ramadhan. Karena itu lah bulan suci ramadhan selalu di tunggu-tunggu kehadirannya. Adapun dalam Al Quran di sebutkan :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)





Berhati-Hati dalam Berbuat 
Bulan suci ramadhan menjadi bulan penuh ampunan sekaligus menjadi ajang untuk mencari pahala. Seperti yang telah di bahas pada pernyataan - pernyataan di atas, bulan suci ramadhan mendorong kita untuk mengendalikan emosi, hawa dan nafsu. Maka dari itu, kita sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah SWT, hendaknya kita selalu menghindari perbuatan - perbuatan yang kiranya dapat mengurangi amalan ibadan juga pahala kita di bulan suci ramadhan.
ثُمَّ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ تَمَامًا عَلَى الَّذِيْٓ اَحْسَنَ وَتَفْصِيْلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ ࣖ

Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya.
















DAFTAR PUSTAKA
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/03/pengertian-puasa.html
https://tirto.id/apa-pengertian-puasa-menurut-bahasa-dan-istilah-gpzF
islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/sejarah-puasa-umat-islam-yJqKc
https://islam.nu.or.id/ramadhan/syarat-wajib-dan-rukun-puasa-ramadhan-EoZoJ
https://kumparan.com/berita-terkini/pengertian-rukun-dalam-ajaran-islam-1wf2QTLFvFg/3
https://id.wikipedia.org/wiki/Rukun
https://id.wikipedia.org/wiki/Niat
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5724013/rukun-puasa-ada-dua-apa-saja-simak-di-sini-penjelasannya
https://www.orami.co.id/magazine/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/
https://m.bisnis.com/amp/read/20220326/79/1515396/8-hal-yang-dapat-membatalkan-puasa-apa-saja
https://m.liputan6.com/ramadan/read/4525889/9-keutamaan-menakjubkan-bulan-suci-ramadhan
https://tafsirweb.com/691-surat-al-baqarah-ayat-185.html
https://kesan.id/feed/feed-10-keutamaan-bulan-ramadan-ii-bd24
https://dpmptsp.bireuenkab.go.id/keutamaan-bulan-ramadhan/
https://umma.id/article/share/id/7/17118
http://up3ai.unsyiah.ac.id/artikel/tiga-waktu-terkabulnya-doa-di-bulan-ramadhan
https://retizen.republika.co.id/posts/107148/ciri-ciri-malam-lailatul-qadar-malam-penuh-kemuliaan-di-bulan-ramadhan
https://www.pikiran-rakyat.com/khazanah-islam/pr-014242698/keutamaan-malam-lailatul-qadar-lebih-baik-dari-malam-seribu-bulan
https://www.tokopedia.com/s/quran/yusuf/ayat-53
https://www.idntimes.com/life/inspiration/cynthia-nanda/ayat-al-quran-tentang-silaturahmi
https://news.detik.com/berita/d-5660977/surat-al-hujurat-ayat-13-arti-bacaan-dan-maknanya
https://www.idntimes.com/life/inspiration/cynthia-nanda/ayat-al-quran-tentang-tolong-menolong-dan-penjelasannya/1
https://www.tokopedia.com/s/quran/al-anam/ayat-154

Komentar